Selasa, 02 Juni 2015

Hambatan Utama Dan Kiat Memusnahkannya

Kebodohan atau kegelapan batiniah (avidya), egoisme (asmita), kelekatan atau kecintaan ragawi (raga), kebencian (dvesa), dan kecintaan yang amat sangat pada kehidupan sehingga amat takut mati (abhinivesa) adalah lima kekotoran batin penghambat (panca kléša). Avidya merupakan ‘bidang gerak’ bagi yang lainnya; apakah mereka terpendam, kemudian menghilang, teratasi, ataupun malah lebih meluas.
Terhubung dengan yang tak-kekal, tak-murni, yang bukan-jiwa, yang dalam kondisi menyedihkan, yang kekal, murni, kesadaran dari jiwa —yang sebetulnya berbahagia—juga jadi terselimuti oleh avidya.
Ada dalam liputan kabut asmita, Sang Subjek tampak teridentifikasikan dengan kekuatan penglihatan.
Terbenam di dalam kenikmatan dunia dan ragawi adalah kemelekatan atau kecintaan (raga);
(Sebaliknya) tersusupi oleh penderitaan sehingga menimbulkan sikap penolakan adalah dvesa.
Seakan-akan mengalir dengan sendirinya demikian, bahkan seorang bijak-pun masih bisa mencintai hidupnya ini dan takut pada kematian (abhinivesa).
[YS II.3 - II.9]
Disebutkan bahwa avidya adalah cikal-bakal Samsara. Yang satu ini memang amat patut untuk ditakuti oleh seorang penekun jalan spiritual, yang mendambakan kebebasan. Berpangkal pada avidya inilah bermunculan kléša-kléša yang lainnya, yang pada gilirannya menjadi sumber dari segala sumber penderitaan; persis seperti disebutkan bahwa, Avidya merupakan ‘bidang gerak’ bagi yang lainnya, apakah mereka terpendam, menghilang, teratasi, ataupun malah lebih meluas.
Sebaliknya, terhapusnya avidya oleh vidya, berarti meniadakan 'bidang gerak' dari kléša-kléša yang lainnya, sehingga merekapun tiada menemukan pijakan dalam batin kita. Dalam konteks ini, vidya dikelompokkan dalam dua kelompok besarkan yakni Paravidya (pengetahuan duniawi atau yang umum sifatnya) dan Aparavidya atau Brahmavidya (pengetahuan spiritual-filosofis, kebenaran atau ketuhanan). Penguasaan Paravidya menunjang pencapaian Brahmavidya, bila diarahkan dengan baik. Ia juga mengkondisikan dan menunjukkan bukti-bukti konkret, yang mudah dicerap dan dimengerti, atas nilai-nilai luhur dan kebenaran yang terkandung didalam Brahmavidya. Oleh karenanyalah, Brahmavidya dapat pula disebut Dharmavidya.
Bukan saja sebagai penunjang dan pengkondisi, Paravidya juga merupakan bekal hidup pada kehidupan ini. Ia memberi kemudahan-kemudahan dalam menjalani hidup. Apa yang kita sebut sebagai sains dan teknologi adalah Paravidya itu adanya. Bukankah penguasaannya memberi kemudahan-kemudahan dan kenyamanan fisik dan psikis bagi manusia? Akan tetapi, terhenti dan mandek hanya sampai disana, bukan saja perlu disayangkan namun bisa berbahaya bagi penguasanya. Peningkatan penguasaan Paravidya, mutlak perlu di-imbangi dengan dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk meraih Brahmavidya. Ini sejalan dengan lontaran Albert Einstein, yang terkenal: “Pengetahuan tanpa agama adalah pincang. Sedang agama tanpa pengetahuan adalah buta.” ini. Dengan penuh keyakinan ia juga mengemukakan pandangannya: “Setiap orang yang terlibat secara serius di dalam pencarian pengetahuan, menjadi yakin bahwasanya, ada suatu jiwa termanifestasikan pada hukum semesta raya —jiwa yang secara luas superior terhadap jiwa-jiwa manusia, dan sesuatu dimana di hadapan-Nya, kita beserta kekuatan mutahir kita terasa sedemikian lemahnya."
Avidya melahirkan ke-aku-an semu (asmita); hadirnya asmita melahirkan suka-tidak-suka (raga-dvesa); segala penilaian yang berdasarkan atas raga-dvesa, semakin mempertebal kabut avidya dan memperkuat asmita. Dengan semakin kuatnya asmita, mempertebal kepemilikan atas segala sesuatu, termasuk hidup atau kelahiran ini. “Kekayaan-ku, keluarga-ku, anak-ku, istri-ku, suami-ku, tubuh-ku, diri-ku, hidup-ku....dll.”, demikianlah ungkapan mereka yang tebal dan kuat asmita-nya. Dengan demikian abhinivesa berkembang dengan subur.
Namun jangan keliru, mengikis abhinivesa bukan berarti membahayakan atau menyiksa diri, atau sebaliknya menyia-nyiakan kelahiran dalam jasad manusia ini dengan cara memanjakannya. Kitab Sarasamuschaya menegaskan bahwa, hendaknya kelahiran dalam jasad manusia, yang sangat berharga ini dimanfaatkan sebaik-baiknya. Dimanfaatkan untuk memupuk kebajikan dan mencapai kebebasan. Bagaimana itu bisa dilakukan? Dalam sutra-sutra berikut akan kita temukan penjelasannya.
Kiat Memusnahkan Hambatan-hambatan.

Semua itu dapat diatasi lewat perambatan yang berlawanan (pratiprasava) menuju penghalusannya (suksmah).
Meditasi (dhyana) mengatasi pengaruh pusaran atau modifikasi (vritti)-nya.
Panca kléša menyebabkan pola-pola perbuatan yang menyebabkan derita dalam kehidupan ini maupun kehidupan berikutnya.
Selama akar-akarnya semula masih ada, mereka mematangkan tumimbal-lahir ke dalam golongan, kehidupan dan pengalaman makhluk hidup.
Mereka menyajikan pahala berupa ‘kebahagiaan’ atau penderitaan, yang disebabkan oleh kebajikan atau kejahatan.
[YS II.10 - II.14]
Yang menarik untuk dicermati lebih jauh adalah apa yang disebut dengan istilah ‘pratiprasava’ atau mengatasi suatu kecenderungan melalui perambatan atau menghadirkan serta membiasakan yang berlawanan dengannya. Ini dapat disebut sebagai suatu ‘metode tandingan’, metode untuk memusnahkan yang buruk dengan menandinginya dengan yang baik, atau sejenis itu. Prinsip atau esensi serupa diulang lagi nanti pada sutra II.33 oleh Patanjali dengan menyebutnya sebagai: Pratipaksa Bhavana. Inilah metode praktis dalam yogasadhana yang diajukannya.
Bila panca kléša juga menghadirkan ‘kebahagiaan’ —seperti yang disebutkan dalam sutra II.14.—mengapa mesti dihapus? Pertanyaan seperti itu bisa saja muncul dalam benak kita bukan? Sesungguhnya, dalam sutra sebelumnya, secara implisit, pertanyaan ini telah dijawab. Tujuan utama kita adalah terbebas dari lingkaran tumimbal-lahir yang tiada berkesudahan, yang tiada lain dari rangkaian kesengsaraan dan penderitaan. Samsara, sesungguhnya juga terbaca Sangsara; seperti juga Ahamkara dibaca Ahangkara, dan yang lainnya.
Kebahagiaan yang disebutkan tadi, yang merupakan pahala dari kebajikan adalah kebahagiaan temporer dan semu, yang diperoleh dalam kehidupan berjasad (kasar maupun halus) berupa kenikmatan-kenikmatan pemenuhan nafsu dan keinginan-keinginan yang tak terhitung banyaknya itu; bukan kebahagiaan sejati, anandam.
Bagi seorang pertapa yang telah menghacurkan kesan-kesan pengalamannya (samskara) dan mengembangkan daya memilih dan memilah-milah (viveka) memahami bahwa berbagai derita (dukha) yang disebabkan oleh perubahan-perubahan (vritti) bentuk-bentuk pikiran dan perasaan yang berlawanan (rwabhinneda, seperti: senang-susah, untung-rugi, sehat-sakit dsb.)
dan pengaruh tiga sifat (sattva, rajas dan tamas) adalah derita adanya.
Dukha yang belum muncul (anãgata), dapat dihindari.
Penghindaran dimungkinkan melalui peniadaan sebabnya;
sebabnya adalah ‘si pengamat’ (drastr) mengidentifikasikan-diri sebagai ‘yang diamati’ (drsyayoh).
[YS II.15 - II.17]
Dalam dua sutra terakhir dengan gamblang disebutkan bahwa, sebab dari dukha adalah adanya kecenderungan manusia untuk mengidentifikasikan-diri sebagai ‘yang diamati’ (drsyayoh). Kecenderungan inilah yang menimbulkan hasrat untuk memiliki atau ‘ingin menjadi’. Inilah yang menggerakkan atau menjadi motivasi utama manusia untuk berbuat dan berbuat atau menghindari perbuatan tertentu. Hampir semua aktivitasnya bersandar pada motivasi ini. Semakin sempit lingkup manfaat aktivitasnya, semakin menguatlah asmita-nya.
Namun secara keseluruhan, secara lebih luas lagi, paparan dalam kedua sutra itu menunjukkan satu prinsip dasar yakni ‘meniadakan akibat dengan cara meniadakan sebab yang mendahuluinya.’ Inilah sesungguhnya pengejawantahan dari Hukum Kausalitas Universal yang mendasari semua kejadian dan ciptaan. Paradigma ini akan lebih diperjelas lagi dalam sutra-sutra berikut.
Dipublikasikan di majalah Media Hindu No.16—Edisi Juni 2005.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Toko Online terpercaya www.iloveblue.net

Toko Online terpercaya www.iloveblue.net
Toko Online terpercaya www.iloveblue.net