Minggu, 04 September 2016

Berdemokrasi Membutuhkan Kesabaran

Praja Sukha sukha rajanah.
Prajanam ca hita hitam.
Naatma priyam hitam rajnah.
Prajana tu priyam hitam.
(Dikutip dari Arthasastra) 

Maksudnya:
Kebahagiaan rakyat adalah kebahagiaanmu raja. Kesejahteraan rakyat adalah kesejahteraanmu raja. Kesejahteraan raja bukan apa-apa yang diinginkan oleh raja. Tetapi apa yang menjadi kehendak rakyat itulah menjadi kehendak raja.

Menumbuhkan sebatang pohon mangga sampai ia dapat berbunga, berbuah terus sampai buahnya ranum membutuhkan suatu ketetapan hati dan kesabaran. Tanpa ketetapan hati dan kesabaran itu buah mangga yang ranum dan manis tidak akan dapat dinikmati. 

Menumbuhkan mangga saja membutuhkan ketetapan hati dan kesabaran apalagi menumbuhkan proses demokrasi melaksanakan kehendak rakyat. Berdemokrasi pada hakikatnya mewujudkan kehendak rakyat. Secara teori kedengarannya gampang sekali. Tetapi dalam praktik tidaklah segampang teorinya. Rakyat banyak jumlahnya dan dengan keanekaragaman yang sangat luas sangatlah tidak mudah merumuskan kehendaknya. 

Berbagai peraturan untuk berdemokrasi merumuskan kehendak rakyat sudah banyak yang diberlakukan. Menyatukan persepsi, visi dan misi untuk mengimplementasikan semua peraturan perundangan itu juga membutuhkan proses yang kadang-kadang berliku-liku. Pemilu adalah media untuk mewujudkan cita-cita demokrasi dalam kehidupan bernegara dan berbangsa. 

Di Indonesia sudah berkali-kali pemilu sebagai sarana berdemokrasi dilaksanakan. Banyak pujian dan cacian yang muncul atas pelaksanaan pemilu tersebut. Agama hendaknya dijadikan kekuatan rohani untuk membangun kesabaran dan ketetapan hati pada diri tiap orang. Dari ketetapan hati dan kesabaran itulah kita lihat tiap pujian dan cacian pada pelaksanaan tiap pemilu. 

Pemilu 2004 di Indonesia nampaknya merupakan kristal dari analisa pujian dan cacian pemilu-pemilu sebelumnya. Karena Pemilu 2004 ini dilihat dari sistemnya adalah sistem pemilu yang paling banyak memberikan peluang pada kehendak rakyat. Pemilu 2004 ini sistemnya sangat luas memberikan kesempatan pada rakyat menentukan pilihannya. 

Namun demikian, tidaklah serta merta sistem yang demokratis itu dapat berjalan mulus. Pihak-pihak yang sudah terbiasa mendapatkan keistimewaan dan prioritas melalui jalur-jalur kekuasan agak sulit membangun keikhlasan diri untuk menyerahkan pada kehendak rakyat. Mereka masih berusaha mencari peluang-peluang dari sistem yang ada untuk tetap mendapatkan keistimewaan dalam proses demokrasi tersebut. 

Mereka inilah yang banyak menimbulkan saling hujat-menghujat di intern parpol sendiri maupun antarparpol. Hal ini menimbulkan kredibilitas parpol menjadi merosot di mata sebagian masyarakat. Betapa pun hal itu terjadi yang jelas tiap pemilu ada kelihatan semangat yang positif untuk berdemokrasi yang baik dan benar. 

Semangat berdemokrasi yang baik dan benar itulah hendaknya menjadi ketetapan hati tiap orang di Indonesia ini dan juga di Bali. Berdemokrasi yang baik dan benar itu adalah berdemokrasi sebagaimana diatur menurut normanya. Ada norma hukum yang khusus untuk menata proses berdemokrasi termasuk melaksanakan pemilu. 

Ada juga norma kesusilaan, norma kesopanan dan norma agama yang wajib dijadikan dasar melakukan proses demokrasi yang baik dan benar. Banyak hal sesungguhnya dapat diwujudkan dalam kehidupan berdemokrasi meskipun masih jauh dari apa yang diharapkan. Untuk mewujudkan nilai-nilai demokrasi yang baik dan benar itu sangat dibutuhkan ketetapan hati dan kesabaran. 

Ketetapan hati untuk memelihara semangat berdemokrasi yang baik dan benar. Kesabaran dibutuhkan untuk membangun dan menguatkan semangat berdemokrasi yang baik dan benar itu. Biarlah rakyat yang menentukan. Meskipun harus kita akui masih ada sementara masyarakat yang mau diperbodoh oleh pemimpinnya. 

Seperti dalam Pemilu 2004 ini di Bali ada pihak yang menyalahgunakan hubungan Mesiwa dan Mesisya. Hubungan tersebut hanyalah masalah-masalah kerohanian. Tetapi ada sementara pemimpin yang menyalahgunakan untuk kepentingan politik warga tertentu untuk memenangkan warganya dalam pemilu. Hal ini biarlah berlalu namun jangan terulang lagi dalam pemilu yang akan datang. 

Itulah salah satu wujud kesabaran yang seyogianya kita lakukan. Karena yang memperbodoh dan yang diperbodoh sama-sama mau. Ke depan pasti ada yang akan menyadarinya bahwa hal itu adalah salah. Kalau kita mau maju janganlah kehilangan tongkat untuk kedua kalinya. 

Berbagai kekurangan dalam proses demokrasi itu hendaknya dijadikan bahan pelajaran untuk diperbaiki pada proses berikutnya. Janganlah kekurangan itu dijadikan alasan untuk menghilangkan berbagai kelebihan atau hal-hal yang sudah dapat dicapai. 

Ketetapan hati dan kesadaran menumbuhkan nilai-nilai demokrasi di Bali patut kita jadikan pegangan dalam berdemokrasi untuk mewujudkan ajeg Bali ke depan. * I Ketut Gobyah 


sumber : www.balipost.co.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Toko Online terpercaya www.iloveblue.net

Toko Online terpercaya www.iloveblue.net
Toko Online terpercaya www.iloveblue.net