Kamis, 15 September 2016

Menguatkan Ajegnya Persahabatan

Yas tu vijnyanamvan bhavati yuktena manasa sada.
Tusyendriyani vasyaani sadasva iva saraatheh.
(Katha Upanisad, I.6). 

Maksudnya: 

Dia yang memiliki kesadaran, yang pikirannya selalu terkendali, yang indrianya selalu dikuasai, semuanya itu bagaikan kuda-kuda bagus bagi si kusir. 


MANUSIA memiliki dua dimensi. Manusia sebagai makhluk individu dan manusia sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk individu manusia itu seorang diri menyendiri memenuhi kebutuhan filosofinya mencari Sang Pencipta. Aktivitas individu yang demikian itulah sebagai aktivitas individu yang sangat mulia. 

Sebagai makhluk sosial manusia hidup bersama-sama manusia lainnya memenuhi kebutuhan sosialogisnya dan juga kebutuhan biologisnya. Dalam ajaran Hindu ada dua jenis kebersamaan manusia. Ada yang disebut Satsangga dan ada yang disebut Dursangga. Satsangga adalah manusia hidup bersama untuk secara bersama-sama mencari kebenaran (Satya dan Dharma). Kebersamaan yang disebut Dursangga adalah kebersamaan yang menjauhi kebenaran (Satya). 

Kebersamaan yang Satsangga diawali dari penguasaan indria atau Wisaya. Dengan indria yang telah dikuasai seseorang akan dapat melihat setiap orang sebagai seorang sahabat. Kalau indria itu masih mendominasi sang diri maka setiap orang akan dilihatnya sebagai ancaman dalam hidupnya. Berkumpul dengan alasan untuk memuaskan indria akan melihat setiap orang yang berbeda sebagai musuh. Karena musuh harus disingkirkan. 

Karena dikuasai hawa nafsu menyingkirkan musuh pun tidak dengan cara-cara kesatria. Berkumpul seperti itulah yang digolongkan Dursangga. Agar kita selalu melihat setiap orang sebagai seorang sahabat maka pertama-tama kuasailah indria itu. Jangan sebaliknya malahan kita yang dikuasai oleh indria. 

Kebersamaan umat manusia dewasa ini cenderung mengarah ke kebersamaan yang Dursangga. Dalam kebersamaan Dursangga tersebut segala sesuatunya diukur dengan puasnya sang indria. Kalau indria tidak terpuaskan maka ia bukan sehabat. Karena itu banyak ahli ilmu sosial berpendapat bahwa manusia modern adalah manusia yang tidak bermasyarakat tetapi sekadar berkerumun. Ada banyak alasan manusia berkerumun. Ada karena alasan agama, adat, ekonomi, seni, politik, dll. Apa pun alasannya berkumpul hendaknya diarahkan menuju perkumpulan yang bercorak Satsangga. 

Sementara ini arah perkumpulan dalam kebersamaan itu lebih banyak dalam coraknya yang Dursangga. Sesungguhnya perkumpulan yang dilakukan dengan alasan politik sangatlah tidak tepat kalau dilakukan dengan corak Dursangga. Mengapa demikian, karena hakikat politik itu adalah sarana menuju Satsangga. 

Politik adalah media mensinergikan berbagai perbedaan membangun kekuatan bersama untuk didayagunakan memajukan pembangunan memenuhi kebutuhan hidup bersama lahir dan batin. Justru politik semestinya dijadikan media membangun kesetiakawanan, rasa senasib dan sepenanggungan, saling menolong mengatasi masalah bersama. Mengapa justru terbalik. Hal itu disebabkan setiap berkumpul dengan alasan politik jarang diisi dengan kegiatan untuk mengendalikan indria. 

Kegiatan politik justru lebih banyak dilakukan dengan memicu nafsu bermusuhan pada mereka yang berbeda. Dengan demikian lebih kuat pengaruhnya ''kami sebagai partai'' daripada ''kita sebagai bangsa''. Seharusnya ''kami sebagai partai'' tidak dibuat berdikotomi dengan ''kita sebagai bangsa''. Kalau kami dengan kita dibuat berdikotomi maka manusia berkumpul mengobarkan nafsu bermusuhan dengan siapa saja yang berbeda. 

Perkumpulan yang mengobarkan nafsu bermusuhan itu akan membangun kekuatan untuk saling meniadakan. Karena itu, setiap perkumpulan hendaknya diarahkan untuk menguatkan pengendalian pikiran untuk menguasai indria. Kalau kuda-kuda kereta yang sehat dan kuat itu terkendali dengan baik maka kereta pun akan ditarik dan berjalan di jalan yang benar sesuai dengan aturan berlalu lintas. 

Dalam keadaan indria terkendali maka kesucian Atman akan mendominasi diri seseorang. Ibarat sinar surya menyinari alam tanpa halangan mendung di langit. Atman yang bersemayam dalam diri setiap orang semuanya berasal dari Parama Atman Yang Esa. Karena itu, setiap perkumpulan apa pun alasannya isilah dengan kegiatan yang bertemakan penguasaan indria. Hal itu akan membawa manusia secara alami merasakan hidup dalam suatu persaudaraan dan persahabatan. 

Biarlah mendung-mendung indria turun menjadi hujan yang menyejukkan dan menyuburkan bumi tempat umat manusia mengembangkan kehidupannya. Betapa besar kekuatan yang akan didapatkan kalau manusia hidup dalam suatu persahabatan dan persaudaraan. Entah berapa kerugian yang diderita oleh umat manusia yang bermusuhan. * I Ketut Gobyah 

  
sumber : www.balipost.co.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Toko Online terpercaya www.iloveblue.net

Toko Online terpercaya www.iloveblue.net
Toko Online terpercaya www.iloveblue.net