Selasa, 22 November 2016

MAKNA PUJA MANTRA UPACARA POTONG GIGI

Upacara Potong Gigi atau Mepandes diawali dengan Natab Banten Byakala dan Maprayascita. Hal ini lambang penyucian lahir dan batin. Setelah suci lahir batin barulah Sembahyang kehadapan  Bhatara Surya dan Bhatara Smara Ratih. Sembahyngan ini simbol   mohon persaksian Tuhan dan  kasih sayang yang sejati. Dewa Surya  manifestasi Tuhan sebagai Saksi Agung kehidupan di alam semesta ini. Dewa Smara Ratih manifestasi Tuhan sebagai Dewa Kasih Sayang. Selanjutnya Sangging atau rokhaniawan yang akan melakukan Upacara Potong Gigi ini terlebih dahulu  "Ngerajah " orang yang akan Mepandes. Ngerajah itu adalah menuliskan aksara suci pada bagian-bagian tertentu dari orang yang diupacarai. Aksara suci itu dalam upacara Mepandes dituliskan pada antara kedua kening (selaning Lelata),pada taring  sebelas kiri dan kanan, pada gigi atas dan bawah, pada lidah,dada,pusar dan pada paha. Makna penulisan Aksara suci itu adalah lambang memohon agar kesucian para Dewata Nawa Sanga manifestasi Tuhan meresap pada diri  orang yang diupacarai. Penulisan yang disebut "Ngerajah : itu sebagai suatu  Puja Mantra semoga dengan penulisan tersebut kekuatan suci Dewata Nawa Sanga menghapuskan kekuatan yang negatif pada diri yang di upacarai.Setelah prosesi Ngerajah tersebut dilanjutkanlah memotong gigi orang yang diupacarai dengan kikir khusus yaitu peralatan.Kikir  yang dipakai alat memapar gigi sebelunya di berikan Mantra. Makna Mantra tersebut memohon kepada Tuhan agar  kikir tersebut menjadi sarana  untuk mendapatkan kekuatan suci untuk melindungi orang yang diupacarai (tan ketekaning lara wighna). Pedangal  atau Singgang gigi yang dibuat dari potongan tebu dan pohon Dapdap dijadikan alat pembatas gigi atas dan gigi bawah. Gigi atas lambang sifat-sifat Kedewaan sedangkan gigi bawah lambang sifat-sifat Keraksasaan. Singgang dari tebu dan pohon Dapdap itu melambangkan  kekuatan manusia untuk memisahkan antara kecendrungan Kedewaan  dengan Kecendrungan Keraksasaan. Pemisahan tersebut disertai dengan upaya untuk memenangkan Kecendrungan Kedewaan. Tebu lambang usaha manusia untuk hidup penuh dengan perhitungan yang rational. Dari perhitungan itu diharapkan muncul rencana hidup yang matang. Rencana hidup yang matang adalah rencana hidup yang memadukan antara harapan dan kenyataan dan berbagai perhitungan menghadapi resiko terburuk. Sikap hidup yang planmateg itulah yang akan dapat memeperkecil peluang Kecenrungan Keraksasaan mendominasi kecendrungan Kedewaan. Sedangkan potongan  pohon Dapdap adalah sarana sebagai  lambang permohonan kepada Dewa Siwa untuk mendapatkan kekuatan suci  untuk menguasai kecendrungan Keraksasaan..Mantra saat memapar gigi disertai dengan Puja Mantra sbb" Om lunga ayu teka ayu. Puja Mantra ini diucapkan tiga kali. Angka Tiga kali ini  dalam Candra Sangkala artinya mendaki  menuju alam kesucian atau dari alam Bhur menjuju Bhuwah dan terus mencapai Swaha Loka. Ini artinya setelah upacara potong gigi ini orang yang diupacarai selalu mendapatkan keselamatan dan kesucian. Saat  pergi selamat dan saat datangpun selamat .Disamping itu dilanjutkan dengan  Puja Mantra  "Pangurip-urip " sbb: Om urip-uriping bayu sabda idep teke urip, Ang Ah. Puja Mantra ini lambang permohonan kepada Tuhan (Om ) semoga Tri Premana (sabda,bayu dan idep ) orang yang diupacarai menjadi sumber kehidupan (Urip ) lahir dan batin. Puja  Aksara Ang dan Ah itu lambang permohonan agar  terjadinya keseimbangan yang sinergis antara kekuatan Purusa dan Predana. Dari perpaduan itulah Tri Premana itu menyatu menjadi kekuatan suci  manusia yang sangat hebat. Sehabis  gigi dipapar ludah dan Singgang dibuang kedalam kelapa gading terus ditanam di belakang Sanggah Kamulan. Ini berarti segala sesuatu yang negatif dalam diri seperti kecendrungan Keraksasaan bukanlah menjadi limbah yang boleh dibuang sembarangan. Ia harus diperlakukan dengan baik untuk di "somia " sehingga menjadi kekuatan yang berguna. Kelapa gading lambang "pengelukatan " dari yang tidak baik menjadi semakin baik. Upaya untuk memperbaiki itu hendaknya di lakukan melalui cara berguru. Sanggah Kamulan adalah  Stana Bhatara Hyang Guru untuk merobah yang kurang baik menjadi semakin baik. Sehabis gigi dipapar orang yang di upacarai makan sirih berupa Lekesan.Lekesan itu dibuat dari sirih yang digulung. Didalam sirih itu berisi  kapur dan pinang. Saat mengunyah sirih itu ludahnya ditelan tiga kali. Ini lambang menyatukan kekuatan Tri Murti agar manusia itu dewasa.Ciri manusia Dewasa dapat mencipta dan memelihara yg baik ,menghilangkan yang buruk.


Dari : I Ketut Widyananda..

Hal  :  Naskah Untuk Rubrik Kembang Rampe di Nusa Tenggara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Toko Online terpercaya www.iloveblue.net

Toko Online terpercaya www.iloveblue.net
Toko Online terpercaya www.iloveblue.net