Selasa, 29 November 2016

MEMUJA DEWA PITARA

Dalam tradisi Hindu di Bali leluhur yang dapat di puja adalah leluhur yang telah mencapai tahapan Dewa Pitara atau disebut juga telah mencapai tahapan Sidha Dewata. Hal ini diuraikan dalam Lontar Purwa Bumi Kamulan dan beberpa Lontar lainya.Dewa Pitara itu adalah Pitara atau leluhur yang kesuciannya sudah diyakini  setarap dengan Dewa.Sidha Dewata artinya telah sukses mencapai alam Dewata. Menurut pandangan ajaran Hindu berbhakti pada orang tua atau leluhur tidak cukup saat beliau masih hidup di dunia maya ini. Setelah bilau pergi meninggalkan dunia maya inipun keturunanya wajib tetap bahkti pada leluhurnya. Bhakti itu diwujudkan dari beliau meninggal sampai beliau  mencapai tahapan Dewa Pitara.. Suatu hal yang patut diteladani adalah Raja Dasa Rata yang dilukiskan dalam Kekawin Ramayana sbb:. 

Gunamanta Sang Dasa Rata ,wruh sira ring Weda bakti ring Dewa,tarmalupeng Pitra puja.Maasih ta sireng swagotra kabeh.. 

Artinya amat sangat  gunawan beliau Raja Dasa Rata.Beliau sangat akhli dalam ilmu Weda, beliau taat berbhakti pada Tuhan dan tidak pernah lupa berbhakti pada leluhurnya ,juga amat sayang pada seluruh keluarganya.. Berbhakti pada leluhur memang diajarkan dalam kitab Itihasa /Purana maupun kitab Weda. Didalam Rgveda.X.15.1 ada disebutkan suatu  persembahan untuk memohon anugrah para leluhur..Sebaliknya dalam kitab Rgveda yang sama pada Mantra 2 dinyatakan juga dengan bhakti keturunanya  maka  para leluhur akan mendapatkan tempat yang layak di alam Niskala. Ada banyak Mantra  dalam Rgveda yang mengajarkan tentang pemujaan pada leluhur.Leluhur yang dapat di puja adalah leluhur yang telah suci melalui suatu prosesi upacara  penyucian. Prosesi penyucian rokh leluhur itu  diawali semenjak beliau meninggalkan badan wadagnya..Dari semenjak itulah  orang yang masih hidup melakukan Yadnya bhakti kepada leluhurnya.Dalam kitab Manawa Dharmasastra III.275 ada dinyatakan bahwa :apapun yang dikerjakan oleh seseorang dengan penuh kepercayaan akan memperoleh kepuasan dan kebahagiaan setelah ia melakukan pemujaan kepada leluhurnya sesuai dengan peraturan. Dalam kitab Manawa Dharmasastra  maupun dalam berbagai kitab Sastra Hindu lainya  banyak menerangkan  berbagai ketentuan tentang tatacara memuja leluhur. Pemujaan kepada leluhur bukanlah  merupakan pemujaan yang tertinggi dalam konsep pemujaan Hindu. Pemujaan  yang tertinggi adalah pemujaan kepada Tuhan Yang Mahaesa.Dalam kitab Manawa Dhramasastra III.203 dinyatakan  bagi para Dwijati hendaknya memuja leluhur didahulukan dari pada menyembah Dewa.Karena penyembah leluhur itu akan memeprkuat penyembahan kepada Dewa manifestasi Tuhan Yang Mahaesa selanjutnya..Dalam Sloka berikutnya  pada kitab yang sama dinyatakan bahwa pada saat melakukan penyembahan leluhur itu hendaknya Yajamana mengundang Pandita untuk memuja Dewa dalam rangka melindungi pemujaan leluhur dari godaan para Raksasa..Dalam tradisi Hindu di Bali memang memuja leluhur dilakukan terlebih dahulu barulah kemudian memuja Dewa manifestasi Tuhan Yang Mahaesa. Jadinya pemujaan leluhur itu merupakan pendakian menuju pemujaan yang lebih tinggi lagi yaitu pada Dewa dan pada Tuhan. Hal inilah menyebabkan dalam tradisi Hindu di Bali  memuja leluhur dilakukan terlebih dahulu kalau akan melakukan pemujaan ke Pura Kahyangan Jagat .Misalnya kalau ada umat yang  akan bersembahyang ke Pura Besakih misalnya ,terlebih dahulu mereka sembahyang setidaknya  "maturan canang di Merajan Kamulanya telebih dahulu. Kemudian barulah menuju ke Pura Besakih. Dengan harapan semoga lelulur ikut memperkuat pemujaan kita pada Ida Bhatara di Pura Besakih Demikian jga umat yang memiliki Pura Padharman di Besakih.Terlebih dahulu mereka sembahyang di Pura Padharmanya masing-masing kemudian barulah mereka sembahyang di Pura Penataran Agung atau Pura  Catur Dala (Pura Batu Madeg,Pura Gelap,Pura Kiduling Kreteg atau Pura Ulun Kulkul).Mengapa pemujaan leluhur harus mendahului pemujaan pada Dewa atau Tuhan. Tujuan memuja menurut pandangan Hindu adalah mendekatkan Atman dengan Brahman..Karena dalam kitab Brhad Aranyaka Upanishad 14.10 dinyatakan bahwa.Brahman dan Atman itu satu. Brahman jiwa agung Bhuwanan Agung dan Atman adalah jiwa dari Bhuwanan Alit.Memuja  adalah mendekatkan Atman yang ada pada diri  untuk mencapai Brahman yang menjiwai alam semesta ini. Jadinya manusialah yang aktif mendekatkan Atmanya  menuju Brahman..Hidup akan menjadi semakin  berkwalitas apa bila Atman yang menjadi jiwa kita semakin dekat dengan kesucian Brahman.


Dari : I Ketut Widyananda

Hal  : Naskah Untuk Rubrik Kembang Rampe di Nusa Tenggara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Toko Online terpercaya www.iloveblue.net

Toko Online terpercaya www.iloveblue.net
Toko Online terpercaya www.iloveblue.net