Kamis, 10 November 2016

TANPA TATTWA ,UPACARA YADNYA KEHILANGAN MAKNA

Kehidupan beragama Hindu tidak dapat dilakukan sepotong-sepotong. Karena yang disebut Agama Hindu itu adalah menyangkut Tattwa,Susila dan Upacara Yadnya.Ini diibaratkan sebutir telor. Kuning,putih dan kulit telor itu merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan.Demikian jugalah dalam mengamalkan ajaran Hindu.Pengamalan ajaran Agama Hindu yang sepotong-sepotong itu akan menimbulkan masyalah kalau ia tidak dipahami secara seimbang.Kalau kita hanya pentingkan Tattwanya tanpa diwujudkan dalam kehidupan bersusila dan berupacara Yadnya maka Tatwa itu akan kering sulit dijangkau oleh berbagai lapisan sosial yang beraneka ragam itu.Pada hal ajaran Agama itu untuk menuntun semua lapisan masyarakat dengan beraneka ragam type dan kahrakter itu.Kalau  susila dan Upacara Yadnya tanpa Tattwa maka Susila dan Yadnya itu akan semakin kehilangan makna.Pada hal beragama itu yang paling puncak adalah pemaknaanya dalam menuntun kehidupan umat penganutnya. Susila dan Upacara Yadnya tanpa didasarkan pada Tattwa yang benar dan tepat justru Susila dan Upacara Yadnya itu akan kehilangan jiwa.Tattwa itulah rokh dari pengamalan Agama Hindu. Susila dan Upacara Yadnya seharusnya merupakan pengejawantahan Tattwa.Berprilaku sopan santun lemah lembut dengan bahasa yang sangat bertata krama itu sangat utama.Kalau hal itu dilakukan untuk tujuan yang sempit seperti untuk menjilat agar keinginan pribadi yang sempit dapat tercapai maka  prilaku sopan santun lemah lembut dengan bahasa yang penuh dengan tatakarama itu menjadi kehilangan makna.Itulah suatu contoh Susila Agama yang tidak nyambung dengan Tattwa. Sikap sopan santun dengan bahasa yang sangat bertata krama pada hakekatnya sebagai pengejawantahan hati yang suci dan tulus.Ada juga orang gede berbahasa memuji-muji dengan penampilan penuh perhatian kepada orang kecil seperti Dewa penolong datang kemasyarakat bawah.Namun dibalik itu untuk menyembunyikan citra buruknya sebagai orang yang  mengkorup uang rakryat dengan menyalah gunakan jabatannya. Penampilan manis itu untuk meredam sikap kritis yang sering muncul dari masyarakat  belakangan ini. Upacara Agama janganlah digunakan untuk menyulap kepalsuan seperti itu.Kadang-kadang ada Upacara Agama digelar dengan suatu seremoni setelah ritual utamanya selesai.Seremoni itu disertai dengan mengundang  berbagai pihak terutama para pejabat atau orang-orang gede lainya.Seremoni seperti itu tentunya syah-syah saja.Namun dewasa ini ada pihak-pihak tertentu yang menggeser hahekat seremoni tersebut .Seremoni dalam bentuk resepsi itu bertujuan untuk mempertajam hahekat dan makna suatu hari raya Agama Hindu.Salah satu hahekat dan makna hari raya keagamaan adalah untuk membangun kerukunan hidup sesama manusia dengan tidak melihat perbedaan suku,ras,kepercayaan dan aliran politik.Karena kerukunan itu sebagai suatu terminal sosial mengantarkan manusia pada kehidupan yang aman dan damai.Hal prinsip itu sering digeser oleh oknum-oknum tertentu menjadi ajang jual muka kepada penguasa atau pejabat untuk membangun akses loby.Banyak orang yang gede dalam suatu jabatan tertentu mendadak menjadi tokoh Agama dan pidato soal Agama dalam seremoni tersebut. Dalam pidato tersebutpun diselipi pujian-pujian kepada penguasa yang hadir dan selalu disesuaikan dengan selera sang penguasa.Kritik terhadap berbagai ketimpanganpun ditiadakan ,takut kehilangan akses loby.Untuk mengadakan seremoni seperti itu dibutuhkan dana ratusan juta rupiah.Pada hal untuk datang kedaerah-daerah memberikan pelayanan kepada umat secara langsung bukan main sulitnya mendapatkan dana.Kalau untuk dana mengadakan seremoni sebagai ajang jual muka seperti itu orang-orang gede ramai-ramai menyodorkan sumbanganya agar bisa ikut hadir dalam seremoni tersebut.Inilah seremoni  Agama yang tidak menajamkan Tattwa atau hahekat  ajaran Agama.

Agar jangan pelaksanaan Susila dan Upacara Yadnya terus menerus semakin menjauh dari makna Tattwanya perlu diadakan Dharma Tula atau Dharma Wacana tentang suatu Upacara yadnya yang akan dilangsungkan. Dharma Wacana dan Dharma Tula tersebut hendaknya dilakukan jauh sebelum Upacara Yadnya itu dilaksanakan.Dharma Wacana dan Dharma Tula tersebut hendaknya diikuti oleh semua pihak yang akan terlibat langsung atau tidak langsung dalam Upacara Yadnya tersebut. Penulis sendiri sering diundang oleh umat untuk menjelaskan Suksma atau Tattwa dari suatu Upacara Yadnya yang akan dilangsungkan.Acara tersebut kadang-kadang diadakan beberapa kali sebelum Upacara Yadnya itu dilangsungkan.

                                      
Dari : I Ketut Wiana.

Hal  : Naskah Untuk Mimbar Agama Hindu di Bali Post.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Toko Online terpercaya www.iloveblue.net

Toko Online terpercaya www.iloveblue.net
Toko Online terpercaya www.iloveblue.net