Minggu, 04 Desember 2016

MAKNA WADAH PENGUSUNGAN JENAZAH

Dalam Upacara Pitra Yadnya Pengabenan ada suatu sarana untuk mengusung jenazah  yang disebut "Wadah ". Sarana ini  juga disebut   " Bade ". Kata Bade ini juga berasal dari kata Wadah.  Karena  huruf p.b dan w adalah  satu warga yaitu sama-sama  akasara Labial. Dengan demikian istilah Wadah juga dapat berubah menjadi kata Badah..Dari kata Badah ini menjadi kata  Bada yang artinya juga tempat. Dari kata Bada inilah menjadi kata Bade. Dengan demikian Wadah dan  Bade sebagai sarana pengusungan jenazah dalam upacara Ngaben  memiliki pengertian yang sama. Sarana pengusungan jenazah dalam upacara Pengabenan  ada juga yang disebut Pepaga. Sarana yang disebut Pepaga ini  dalam pengertian umat Hindu di Bali bentuknya lebih sederhana dari pada Wadah atau Bade.Demikian pula tidak setiap umat Hindu yang Ngaben selalu mempergunakan Wadah atau Bade. Upacara Pengabenan yang sederhana boleh atau dapat tidak mempergunakan Bade atau Pepaga. Mengapa demikian ?.Karena dalam tradisi  Upacara Agama Hindu ada istilah  Kanista Madya dan Utama..Kanista tidak sama pengertianya dengan Nista dalam bahasa Indonesia. Kanista artinya intisari. Kalau  ada umat yang memilih upacara Ngaben yang Kanista artinya mengambil intisarinya saja artinya hanya menggunakan hal-hal yang inti saja.Dengan demikian secara fisik Upacara Agama Hindu yang Kanista ini bentuknya sederhana., Umat Hindu yang kurang mampu secara ekonomi dapat saja mereka tidak menggunakan Wadah atau Pepaga dalam mengusung jenazahnya ke tempat pembakaran jenazah. Konsep Kanista,Madya dan Utama ini untuk memberikan kepuasan  rasa kepada umat Hindu yang keadaanya memang berbeda-beda secara ekonomi .Perbedaan itu kadang-kadang juga  dalam hal pemahaman akan  makna suatu Upacara Agama Hindu tersebut. Kalau orang kaya melakukan upacara  yang kecil tentunya kurang  mantap ditinjau dari sudut  rasa beragama. Demikian juga sebaliknya orang yang miskin  tidaklah tepat kalau harus melakukan upacara Agama yang mewah. Adanya Kanista,Madya dan Utama ini dimaksudkan untuk memberikan keseimbangan rasa beragama pada umat. Makna filosofisnya upacara Kanista,Madya dan Utama ini tidaklah berbeda. Kembali dalam hubunganya dengan Wadah ini yang sering menjadi pertanyaan dalam masyarakat sejak kapan umat Hindu menggunakan sarana Wadah atau Bade kalau melakukan upacara Ngaben..Hal ini memang sulit  dijawab dengan tuntas karena sangat terbatasnya bahan-bahan yang dapat dijadikan acuan menurut ketentuan  ilmu sejarah. Namun demikian ada seorang Undagi atau Arsitektur tradisional Bali yang bernama  Anak Agung Ketut Anggara memperkirakan penggunaan Wadah dalam Upacara Ngaben pada waktu Pemerintahan Dalem Watu Renggong di Bali .Pernyataan ini disampaikan oleh Anak Agung Ketut Anggara ketika di wawancarai oleh Drs Made Bola Mastra ketika menulis  masyalah Wadah ini. Pada pemerintahan Raja Dalem Watu Renggog di Bali beliau didampingi oleh seorang Pandita yang bernama Mpu Dang Hyang Dwijendra adik dari Mpu Angsoka dari Jawa Timur. Menurut perkiraan Anak Agung Ketut Anggara saat itulah baru diperkenalkan penggunaan Wadah kalau ada upacara Ngaben. Karena yang memimpin Upacara Ngaben itu adalah  Pandita dari keturunan  Mpu Dang Hyang Dwijendra. Namun pada kenyataanya di Bali banyak juga umat Hindu yang Ngaben tidak menggunakan  Pandita atau Sang Dwijati. Seperti beberapa Desa di  Tabanan maupun daerah lainya banyak yang tidak menggunakan Pandita atau Dwijati  sebagai Pemuput Upacara.. Mereka Ngaben cukup menggunakan Pemangku meskipun Upacara Ngabennya itu menggunakan Wadah atau Bade. Didaerah tersebut segala tingkatan Ngaben cukup menggunakan  Pemangku Hal ini memang sudah merupakan tradisi yang diterima secara turun temurun.Oleh karena itu penggunaan Wadah atau Bade sebagai sarana pengusungan jenazah saat Upacara Ngaben masih perlu diteliti lebih  dalam lagi.Namun dapat diperkirakan bahwa bentuk Wadah atau Bade itu kemungkinan  pada awalnya dari bentuk sederhana terus berevolusi sampai dalam bentuk yang lebih indah seperti yang kita jumpai dewasa ini .Dengan memperhatikan bentuknya  Bade  atau Wadah itu adalah simbol dari Gunung.Dalam Kekawin Dharma Sunia dinyatakan bahwa wujud nyata dari Tuhan adalah Bhuwana  Agung atau Alam semesta ini .Hal ini sesuai dengan Mantra Yajur Veda XXXX.1 yang menyatakan bahwa stana Tuhan itu adalah  alam semesta ini. Simbol ringkas dari  Bhuwana Agung itu adalah Gunung. Simbol dari Gunung itu Meru.Dengan demikian  Wadah itu adalah simbol dari Bhuwana Agung juga.



Dari : I Ketut Widyananda
Hal  : Naskah Untuk Rubrik Kembang Rampe di Nusa Tenggara



                       MAKNA FILOSOFIS PEMBAKARAN WADAH


Dalam tradisi Hindu di Bali manusia ketika lahir disambut dengan Banten Dapetan.Banten Dapetan itu intinya menggunakan Tumpeng yang bentuknya menyerupai gunung..Saat  berumur tiga bulan Wuku  dilangsungkan upacara Nyambutin. Upacara ini bermakna untuk menyambut secara ritual sakral berstananya Sang Hyang Atma dalam diri si bayi. Sampian Banten Nyambutin itu  dari segi bentuknya adalah Sampian yang paling indah kalau dibandingkan  dengan Sampian Banten lainya dalam Upacara  Manusia Yadnya.

Hal ini bermakna sebagai suatu  simbol untuk mengingatkan umat agar dalam hidupnya  selalu memperindah alam ini. Karena  alam atau Bhuwanan Agung ini adalah merupakan badan raga Hyang Widhi. Karena itu Wadah atau Bade sebagai lambang hasil dari perjuangan hidup untuk memperindah alam ini. Mati adalah lepasnya Atman  dari badan raga meninggalkan Bhuwana Agung yang Sekala  menuju alam Niskala. Betapapun indahnya Bhuwana Agung ini pasti akan ditinggalkan oleh manusia saat ia mati. Wadah sebagai lambang  Bhuwana Agung yang di indahkan  sebagai hasil usaha manusia selama hidupnya. Saat mati keindahan Bhuwana Agung itu pasti kita akan tinggalkan. Salah satu tujuan hidup beragama Hindu adalah melepaskan ikatan pada keindahan Bhuwana Agung ini. Karena itu saat Wadah yang indah itu sampai di Setra wadah itu dibakar.Ini artinya betapapun perjuangan hidup kita didunia ini memperindah dunia  hendaknya di ikhlaskan untuk  kita tinggalkan. Membakar Wadah yang indah itu adalah sebagai  pendidikan kerokhanian untuk kita agar ikhlas meninggalkan dunia ini.Dengan demikian saat menuju dunia Niskala  Sang Hyang Atma tidak membawa beban keterikatan akan keindahan dunia ini..Hal ini juga mengandung nilai pendidikan pada yang masih hidup bahwa  selama hidup di dunia ini manusia hendaknya selalu mengindahkan dunia. Nmun harus dilatih juga untuk ikhlas meninggalkan keindahan dunia ini. Inilah yang disebut Niskama Karma dalam kitab Bhagawad Gita. Kita harus senantiasa bekerja  sesuai dengan norma-norma kerja yang baik dan benar. Kalau kita sudah bekerja dengan  baik dan benar bagaimanapun hasilnya kita  ikhlaskan pada Tuhan untuk menentukan hasil kerja tersebut. Karena Tuhan sudah bersabda bahwa setiap kerja yang baik akan menampakan hasil yang baik.Demikian juga kalau kita berbuat buruk akan menghasilkan hasil yang buruk pula .Hal ini sudah ditetapkan dalam ajaran Karma Phala. Menurut kitab Sarasamuscaya ajaran Karmaphala itu tidak boleh diragukan kebanaranya. Jadinya  pembakaran Wadah alat  pengusung jenazah ke kuburan itu bukanlah  tradisi beragama Hindu yang aneh-aneh  tanpa  landasan filosofi yang dalam. Hal ini kami tekankan karena ada sementara pihak menganggap orang Hindu itu merayakan keluarganya mati. Seolah-olah  umat Hindu itu sangat gembira kalau ada keluarganya meninggal. Lahir ,hidup dan mati itu bukanlah menjadi urusan manusia. Menurut keyakinan Hindu yang menentukan  lahir,hidup dan mati itu adalah Hyang Widhi. Manusia hanya berusaha. Kapan kita mati sangat tergantung dari keputusan Hyang Widhi. Karena itu  manusia tidak boleh takut mati atau berani mati. Karena mati itu  merupakan  keputusan Hyang Widhi. Sebagai manusia normal kalau ada anggota keluarga yang meninggal tentnya  kita juga sedih. Namun selama masih bersedih dianjurkan untuk tidak menampilkan kesedihan itu dihadapan  jenazah. Karena mati itu merupakan keputusan Hyang Widhi  maka dianjurkan agar kita tidak sedih dan ikhlas melepaskan anggota keluarga yang sudah dipanggil oleh Tuhan. Karena itu saat mengusung Wadah tempat jenazah  keluarga dan handai taolan beramai-ramai dan tidak menampakan kesedihan. Kalau kita sedih apa lagi sampai menangis meneteskan air mata hal itu sangat dihindari oleh umat Hindu di Bali. Yang sangat dilarang jangan sampai air mata tangis itu mengenai jenazah orang yang diaben.  Air mata tangis itu diyakini akan menghambat perjalanan Atman menuju dunia Niskala.Umat sangat dianjurkan untuk  tidak bersedih atas keputusan Hyang Widhi untuk memanggil pulang umat ciptaaNYA ke "Desa Wayah ".Demikian umumnya umat Hindu di Bali menyebutnya. Jadi kegembiraan umat Hindu saat mengusung wadah dengan jenazah itu bukanlah kegembiraan tanpa arti. Kegembiraan itu lambang keikhlasan atas keputusan Hyang Widhi tersebut. Bahkan dalam perjalanan dari  rumah keluarga menuju Setra di taburkan Sekar Ura. Sekar Ura itu dibuat dari daun temen lambang hubungan yang masih erat antara  dunia Sekala dan Niskala. Sekar lambang  doa keikhlasan  mengantar  Sang Hyang Atma kedunia Niskala .Sedangkan  uang kepeng dan beras  lambang doa semoga keluarga yang ditinggalkan tetap sejahtra lahir batin.


Dari : I Ketut Wiana
Hal  : Naskah Untuk  Bali Travel News


         WADAH  LAMBANG ALAM  SARANA MENCAPAI KEHIDUPAN.


Wadah atau Bade lambang Bhuwana.. Bhuwana atau alam itu dilambangkan dengan gunung.Hal ini dinyatakan dalam Kekawin Dharma Sunia.. Gunung juga disebut Lingga Acala. Artinya Lingga yang tidak bergerak..Lingga adalah lambang Stana Bhatara Siwa Tuhan Yang Mahaesa.  Alam  yang disimbulkan dengan gunung ini adalah sarana untuk mendapatkan kehidupan (Amerta).Karena itu dalam  kitab Adi Parwa ada ceritra Pemuteran Gunung Mandara. Atau disebut juga Amertha Mantana.Ceritra  Pemuteran Mandara Giri ini  ini menceritrakan kerjasama para Dewa dengan Raksasa memutar gunung Mandara di lautan susu atau disebut Ksira Arnawa. Tujuan  para Dewa dan Raksasa memutar  lautan susu dengan dengan gunung Mandara ini adalah untuk mendapatkan air kehidupan atau Tirtha  Amerta.Gunung Mandara ini dicabut dari tempatnya dengan menggunakan naga Ananta Bhoga. Terus dibawa ke lautan susu..Para Dewa dan Raksasa  mengaduk lautan susu tersebut dengan gunung Mandara. Untuk memutar gunung Mandara itu dipergunakan naga Basuki sebagai talinya.Sebagai alasnya digunakan Kurma Raja atau kura-kura besar penjelmaan Dewa Wisnu.. Dipuncak gunung Mandara duduk berstana Dewa Indra..Para Dewa memegang ekor naga  dan Raksasa memegang kepalanya naga Basuki. Pemuataran gunung Mandara ini sempat terhenti karena  dari napas naga Basuki keluar api.Karena itu para Dewa dan Raksasa menjadi kepanasan..Untuk memadamkan api itu Dewa Indra menurunkan awan tebal menjadi hujan lebat.Apipun padam dan pekerjaan para Dewa dan Raksasa mengaduk lautan susu itu terus dilanjutkan. Dari pemutaran gunung Mandara dilautan susu ini  keluar kuda Uchaiswara dan kemudian barulah Tirha Amertha.. Yang patut kita simak dari ceritra ini adalah pemutaran gunung Mandara  bertujuan untuk mencapai Tirtha Amertha lambang  tujuan mencapaikehidupan yang kekal abadi. Hal itulah yang menyebabkan Wadah atau Bade itu diputar  tiga kali dibeberapa tempat. Misalnya saat Bade diusung sebelum menuju Setra diputar tiga kali dengan Pradaksina.Demikian juga setelah sampai diperempatan atau persimpangan jalan lagi diputar tiga kali. Terakhir diputar tiga kali dipintu masuk atau Camkem Setra. Pemutaran tiga kali ini lambang mengantarkan pendakian Sang Hyang Atma  menuju  Tri Loka. Dari Bhur Loka  ke Bhuwah Loka terus ke Swah Loka. Karena dalam Lontar Gaya Tri dinyatakan bahwa saat  upacara Ngaben  Sang Hyang Atma diantarakan  dari Bhur Loka menuju Bhuwah Loka. Sedangkan saat Upacara Atma Wedana mengantarkan Sang Hyang Atma menuju Swah Loka. Tujuan akhir dari  diputarnya Wadah atau bade tiga kali itu sebagai upaya untuk mengentarkan Sang Hyang Atma mendapatkan Tirtha Amertha  atau kehidupan yang kekal abadi di alam Niskala seperti di Bhuwah dan Swah Loka.. Jadinya pengusungan Wadah dari awal sampai  di Camkem Setra itu adalah untuk melukiskan perjuangan hidup manusia selama masih bernafas di dunia ini  Perjuangan hidup itu sebagai persiapan mencapai tujuan hidup mendapatkan Dharma , Artha ,Kama sampai  yang tertinggi mencapai Moksha. Gunung Mandara lambang badan jasmani,naga basuki lambang tenaga.Para Dewa dan Raksasa lambang  dua kecendrungan manusia. Dua kecendrungan itu dalam Bhagawad Gita disebut Dewi Sampad dan Asuri Sampad. Dewi Sampad itu dilambangkan oleh para Dewa dan Asuri Sampad itu dilambangkan oleh  para Raksasa..Badan dan tenaga  kita ini akan selalu diperebutkan oleh dua kecendrungan itu. Dari perjuangan memutar kehidupan ini akan menghasilkan dua hal. Yaitu benda-benda duniawi yang dilambangkan oleh kuda Uchaiswara. di Bali sering disebut Oncesrawa..Disamping itu pemutaran kehidupan di dunia ini juga menghasilkan  nilai-nilai  rokhani yang dilambangkan oleh Tirtha Amertha. Kedua hasil tersebut kalau dikuasai oleh  kecendrungan kedewaan akan menjadi positif memberikan kehidupan yang bahagia sampai pada tujuan akhir dari hidup ini..Namun kalau kedua hasil pemutaran hidup ini dikuasai oleh kecendrungan Keraksasaan justru akan menjadi sangat bahaya karena akan menghasilkan  kehidupan yang sengsara. Dalam akhir ceritra pemutaran lautan susu itu dalam Adi Parwa memang yang  mendapatkan Tirtha Amertha itu adalah para Dewa. Bade sarana pengusungan jenazah itu banyak sekali mengandung  muatan filosofi hidup yang terkandung dalam ajaran Agama Hindu. Dari simbol Bade yang diputar-putar itu tervisualisasikan berbagai konsep hidup yang harus  sangat diperhatikan  oleh umat Hindu. Jadinya Bade itu salah satu wujud bahasa simbol untuk  menyampaikan konsep  pengelolaan  hidup menuju kehidupan yang bahagia di dunia Sekala dan  bahagia di dunia Niskala.



Dari : I Ketut Wiana
Hal  : Naskah Untuk  Bali Travel News.

                                  ARTI SIMBOLIS HYASAN  WADAH

Telah diesbutkan sebelumnya bahwa  Wadah itu adalah lambang Bhuwana Agung atau macrocosmos. Dalam ajaran Agama Hindu  Bhuwana Agung atau alam semesta ini  disimbolkan  memiliki  lapis lapisan semakin keatas semakin suci. . Ada yang  menggambarkan memiliki tujuh lapis disebut  Sapta Loka..Dari Sapta Loka itu ada yang tergolong Tri Loka yaitu Bhur Loka,Bhuwah Loka dan Swah Loka.  Sosok Wadah seutuhnya dapat dibagi menjadi tiga bagian. Yang paling bawah disebut Bebaturan atau Gegunungan Simbol Bhur Loka. Bagain tengah atau diatas Bebaturan itu disebut Bale-Balean lambang Bhuwah Loka dan  bagian atas disebut Tumpang atau atap Wadah.Tumpang ini simbol Swah Loka. Bebaturan atau Gagunungan  yang merupakan simbol Bhur Loka ini dialasi oleh Bhadawang Nala. yang dibelit oleh dua ekor Naga Ananta Bhoga dan Naga Basuki. Badawang Nala juga disebut Kurma Agni. Kurna Agni ini adalah lambang perut bumi berupa api magma. Sedangkan Nga Ananta Bhoga dan Basuki adalah lambang pertiwi (zat padat ) dan Apah (zat cair) yang membelit magma berupa api..Dibagain belakang  Wadah agak diatas Badawang Nala terdapat  hiasan  Bhoma yaitu Raksasa hanya dengan kepalanya dan kedua tanganya saja. Dalam  ceritra Lingodbawa,  Bhoma itu putra  Dewa Wisnu dengan Ibu Pertiwi atau Dewi Basundari. Dalam ceritra Linggodbawa itu diceritrakan Dewa Wisnu dan Dewa Brahma  sedang berdebat  karena  kedua Dewa tersebut sama-sama mangaku paling Sakti. Sedang panas-panasnya  perdebatan  tersebut tiba-tiba munculah Lingga stana Dewa Siwa dihadapan kedua Dewa tersebut. Dewa Siwa bersabda: Kalau memang betul  Dewa Brahma dan Dewa Wisnu  sangat sakti tolong agar dibuktikan dengan mencari ujung bawah dan ujung atas dari Lingga ini. Dewa Wisnu mendapat bagian mencari ujung  terbawah dari Linga tersebut.Sedangkan Dewa Brahma bertugas  mencari ujung paling atas Lingga tersebut. Untuk mencapai ujung paling atas  dari Lingga tersebut Dewa Brahma merubah diri menjadi burung teruis terbang kian keatas..Namun Dewa Brahma tidak pernah berhasil mencapai ujung paling atas dari Lingga tersebut. Dewa Wisnu merubah diri menjadi babi hitam untuk terus kian kebawah mencari ujung Lingga. Dewa Wisnu yang teus kebawah mencari ujung Lingga tsb. Dibawah tanah Dewa Wisnu bertemu dengan Dewi Basundarai atau Ibu Pertiwi. Perjalanan Dewa Wisnu terhenti mencari ujung bawah dari Lingga tersebut karena terpikat oleh oleh Dewi Basundari. Alkhirnya Dewa Wisnu mengawini Ibu Pertiwi  Dari perkawinan Dewa Wisnu dengan Dewi Basundari lahirlah Bhoma.Ceritra Linggodbhawa ini  sesungguhnya suatu  ceritra yang  melukiskan  peristiwa alam. Dewa Brahma adalah Tuhan sebagai Dewanya api. Sedangkan Dewa Wisnu juga Tuhan sebagai Dewanya air. Api terus berkobar dan meloncat-loncat  keatas dan air terus berusaha turun meresap  ketanah..Dari pertemuan air dengan tanah tumbuhlah pohon.Dalam bahasa Sansekerta  kata Bhoma itu artinya  pohon kayu. .Bagian bawah dari Wadah yang disebut Bebaturan atau Gagunungan itu ada hiasan  Bhoma lambang bahwa gunung yang baik adalah gunung yang ditumbuhi pohon-pohon rindang. Pada bagian Bebaturan itu  diatas Bhoma terdapat  simbol Garuda.  Garuda dalam kitab Adi Parwa dalam ceritra Pemuteran Mandara Giri  diceritrakan sebagai putra Dewi Winata istri Resi Kasiapa. Dewi Winata diperbudak untuk setiap hari mengembalakan ribuan ekor Naga anak-anak  madunya  yang bernama Dewi Kadru.Dewi Winata menjadi budak Dewi Kadru karena salah menebak kuda Ucaiswara yang keluar dari lautan susu (Ksiraarnawa) yang diaduk oleh para Dewa dan Raksasa menggunakan gunung Mandara. Atas perjuangan Garuda  ibunya dapat terbebaskan dari perbudakan  mengembala ribuan naga. Wadah adalah lambang Bhuwana Agung sebagai sarana berjuang untuk membebaskan diri dari penderitaan  menuju pembebasan  dari ikatan  kehdupan duniawi.Diletakan hiasan Garuda dibagian belakang Wadah itu untuk membangkitkan semangat rokhani keluarga yang mengabenkan keluarganya agar keluarganya kelak mendapat  pembebasan dari perbudakan dari iktan duniawi ini. Sombol Garuda tersebut adalah sarana  untuk membangkitkan semangat keluarga yang masih hidup bahwa seseorang akan mendapatkan kebebasan dari iktan duniawi ini apa bila dalam hidup ini selalu berjuang seperti Garuda dapat melepaskan diri dari perbudakan  para Naga.Naga dengan bisanya itu  adalah lambang benda-benda duniawi yang dapat  memperbudak manusia dalam kehidupanya di dunia ini. Garuda lepas dari ikatan menjadi budak naga karena mendapatkan Tirtha Mertha melaui suatu perjuangan yang berat.


Dari : I Ketut Widyananda
Hal  : Naskah Untuk Rubrik Kembang Rampe di Nusa Tenggara.



                      HIASAN WADAH SIMBOL PERJUANGAN HIDUP


Hiasan Wadah yang terdapat pada bagian Bebaturan atau Gegunungan itu memiliki banyak arti dan makna.Misalnya hiasan Garuda yang diambil dari  Ceritra Pemuteran Gunung Mandara dalam kitab Adi Parwa .Garuda dalam ceritra  Pemutaran Mandara Giri itu lambang perjuangan hdup untuk mencapai tujuan hidup mendapatkan Tirtha Amertha. Sejak Garuda lahir menyaksikan ibunya yang bernama Dewi Winata setiap pagi pergi dan sore baru pulang. Garuda menanyakan  apa sesungguhnya dilakukan oleh ibunya  setiap hari.Dewi Winata  menjelaskan bahwa ia setiap hari  mendapat tugas untuk melayani seribu ekor naga anak-anak dari Dewi Kadru ibu tiri Garuda sendiri. Dewi Winatapun menceritrakan asal usul mengapa ia menjadi budak  seribu ekor Naga anak darimadunya tersebut.  Garuda sebagai anak ingin berjuang untuk membebaskan ibunya dari perbudakan para naga tersebut. Setelah garuda cukup dewasa ia  mohon kepada ibunya agar ia dibolehkan menggantikan tugas ibunya menjadi budak seribu ekor Naga tersebut. Semenjak itu Garuda dengan rajinnya melakukan tugas-tugas ibunya menjadi budak dari seribu ekor naga yang sesunggunya  saudara tirinya juga . Setelah beberapa lama Garuda menjadi budak Naga tersebut ia ingin bebas dari tugas perbudakan tersebut. Garudapun menanyakan kepada  para Naga apa syaratnya agar ia bebas dari tugas perbudakan t4ersebut. Para Naga memberikan syarat yang sangat berat .Garuda akan dibebaskan dari tugas-tugas melayani Naga  apa bila Garuda berhasil mencari  Tirtha Amertha yang berada di Sorga untuk diminum oleh para Naga.  Tirtha Amertha itu memiliki khasiat yang sangat luar biasa. Barang siapa yang dapat minum Tirtha Amertha itu ia tidak akan pernah mati dan selalu muda tidak akan pernah mengalami ketuaan. Garudapun berjuang ke Sorga untuk mencari Tirtha Amertha tersebut. Mendapatkan Tirtha Amertha tersebut  tidaklah mudah.Tirtha Amertha itu disimpan di sebuah Gua di Sorga  dijaga oleh  Dewa Indra  bersama dua ekor Naga yang sangat sakti.. Sebelum nencapai  tempat Tirtha Amertha disimpan Garuda sudah mengalami berbagai  hambatan. Garuda harus berjuang untuk melawan berbagai tentara Sorga yang menjaga keselamatan Sorga. Namun berkat tekadnya untuk melepaskan diri dari perbudakan naga semua hambatan tersebut dapat dikalahkan satu demi satu. Setelah sampai di gua tempat Tirtha disimpan  Garuda harus melawan Dewa Indra dan dua ekor Naga yang sakti-sakti. Klimak perjuangan Garuda mendapatkan Tirtha Amertha itu,  Garuda harus berhadapan dengan Dewa Wisnu. Garuda ditanya oleh Dewa Wisnu apasih tujuan nya datang  ke Sorga mencari Tirtha Amertha itu. Garudapun menceritrakan asal usul ibunya diperbudak oleh seribu Naga anak-anak dari ibu tirinya yang bernama Dewi Kadru. Dewa Wisnu mengabulkan permintaan Garuda asal Garuda mau menjadi kendaraan Dewa Wisnu. Demi  kebebasan dari perbudakan para Naga ,Garuda bersedia untuk menjadi kendaraan Dewa Wisnu. Semenjak itulah Garuda terus menjadi kendaraan Dewa Wisnu.Setelah perjanjian itu Garudapun mendapatkan Tirtha Amertha tersebut untuk diserahkan kepada Garuda..Tirtha tersebut dibawa ke Mercapada oleh  Garuda dan diberikan kepada para Naga. Para naga dapat minum Tirtha tersebut setelah mandi asuci laksana. Semua naga lari kelaut untuk mandi dan Tirtha yang diserahkan oleh Garuda itu dibiarkan tergeletak di tengah alang-alang tanpa ada yang menunggu. Karena tidak ada yang menunggu Tirtha itupun diambil kembali oleh Dewa Wisnu. Saat diambil Tirtha itu sedikit tertumpah mengenai daun alang-alang. Karena itulah alan-alang tergolong rumput suci menurut tradisi Hindu. Jadinya hiasan  Garuda dalam Wadah itu bukanlah tanpa landasan filosofi yang jelas.Bahkan patung Garuda itu diletakan dibagian atas dari Bale Gede tempat orang menyemayamkan jenazah keluarga yang meninggal sebelum diangkat untuk di aben.. Memang landasan filosofi itu diambil dari mitologi Itihasa. Tujuan Upacara Ngaben adalah untuk membebaskan  Atman dari belenggu perbudakan dunia materi. Dunia materi memang bukan untuk dihindari ,namun yang diperlukan adalah sikap hidup untuk memahami keberadaan dunia materi tersebut .Dunia materi ini yang dilambangkan oleh seribu  Naga itu bukan untuk dijauhi. Yang penting jangan sampai kita diperbudak oleh dunia materi ini.Karena itu keindahan Wadah dengan Naganya itu sebagai media untuk mengantar Atman bebas dari belenggunya. Karena itu dibagian belakang ada hiasan Garuda lambang perjuangan untuk membebaskan diri dari ikatan dunia materi. Hal itu akan tercapai apa bila kita sudah menjadi alatnya Tuhan seperti Garuda menjadi kendaraanya Dewa Wisnu .Garudapun bebas dari perbudakan materi.


Dari : I Ketut Widyananda.
Hal  : Naskah Untuk Rubrik Kembang Rampe di Nusa Tenggara.


                           MAKNA HIASAN ANGSA  PADA WADAH.

Disamping ada hiasan burung Garuda dibelang Wadah terdapat juga hiasang burung Angsa. Letak hiasan burung Angsa tersebut diletakan sedikit diatas burung Garuda..Hiasan tersebut juga memiliki makna pendidikan spiritual.Dalam ajaran Hindu  yang dapat dipakai guru di alam ini  tidak semata-mata manusia yang  berilmu dan suci saja. Berbagai  sumber-sumber alam dan peristiwa alam dapat juga dijadikan guru. Karena berguru itu disamping mendengar,membaca  sumber-sumber ilmu.juga memperhatikan  contoh-contoh perilaku yang patut dijadikan teladan.Prilaku itu ada berasal dari manusia,dari hewan maupun dari tumbu=tumbuhan atau sumber-sumber alam lainya. Swami Satya Narayana menyatakan alam ini adalah sebuah Universitas alam semesta,Tuhan sendiri adalah Rektornya. Para Dewa adalah Dekan-Dekanya. Para Maha Resi adalah Dosen- Dosenya. Kita dapat berguru pada bergai hal yang derasal dari  alam ini. Demikian juga sember-sumber alam ini adalah alat-alat peraga yang dapat kita jadikan  guru dalam belajar. Hiasan  Burung Angsa  pada Wadahpun adalah simbol  binatang yang dapat dijadikan guru keberadaanya maupun prilakunya. Pengunaan burung Angsa inipun terdapat dalam gambar Dewi Saraswati. versi India. Salah satu ciri orang yang  berilmu pengetahuan adalah memiliki kemampuan Wiweka.  Kemampuan tersebut juga disebut Wiweka Jnyana. Kemampuan Wiweka Jnyana itu adalah kemampuan untuk membeda-bedakan antara yang baik dengan buruk.Anatara yang benar dengan yang salah.Antara yang patut,pantas dengan yang tidak patut dan pantas..Dunia ini dilingkupi oleh hukum Rwa Bhineda. Tidak ada  ciptaan Tuhan yang tidak kena hukum Rwa Bhineda ini. Artinya tidak ada ciptaan Tuhan ini yang mutlak baik dan mutlak jelek. Sebab hanya Tuahnlah yang Maha Sempurna. Hal itu sudah merupakan keyakinan semua Agama di dunia ini. Hyasan  burung Angsa  pada Wadah itu mengandung  makna simbolis untuk memvisualisasikan  sikap hidup yang Wiweka itu..Hakekat Wiweka adalah bersikap yang didasarkan oleh pikiran yang jernih.Dengan pikiran yang jernih itu  manusia dapat dengan jelas dapat melihat mana yang baik dan mana yang jelek.Mna  hal yang patut dilakukan dan mana yang tidak patut dilakukan. Dengan pikiran yang jesnih itu diharapkan Sang Hyang Atma dapat membedakan mana Sorga dan Mana  Neraka..Karena itu.  adanya hiasan  burung Angsa itu  adalah visualisasi doa umat yang mengupacarai keluarganya  yang meninggal kepada Tuhan . Doa kepada Tuhan itu memohon agar kejernihan pikiran dapat mengantarkan Sang Hyang Atma  mencapai  tempat yang layak dialam Niskala. Mengapa  burung Angsa yang dijadikan hyasan pada Wadah itu. Apa tidak ada jenis binatang lain.. Burung Angsa adalah sejenis unggas yang memiliki kemampuan untuk membedakan  makanan dan kekotoran.Karena  jenis burung unggas ini seperti itik maupung Angsa dapat  membedakan antara makanan yang harus masuk keperutnya dengan kekotoran yang tidak boleh masuk keperutnya..Karena itu  binatang ini diberikan  nasi bercampur dengan lumpur.Yang masuk kedalam perutnya hanyalah nasinya saja Sedangkan lumpurnya tidak ikut masuk. Meskipun kemampuan burung  Angsa ini  didapatkan  dengan instinkmnya. Hal itu juga dapat dijadikan tauladan bagi manusia. Manusia dengan daya nalar dan kesadaran budhinya dapat membangun sikap hidup yang jernih  untuk membeda-bedakan dengan jelas mana yang benar dan mana yang salah..Burung  Angsa memiliki  kepekaan  instink untuk menerima getaran suci dan sangat sensitif dengan vibrasi negatif.Burung Angsa akan cepat bereaksi kalau ada getaran negatif dalam lingkunganya. Bapak Drs I I.Gst Agung Gede Putra menyatakan  bahwa burung Angsa itu adalah lambang Omkara. Karena burung tersebut memiliki kepekaan  menerima getarabn suci dari Tuhan. Kepekaan rokhani seperti itulah yang harus dibangun oleh manusia.Dengan kepekaan rokhani seperti itu  keluarga yang masih hidup dapat memberikan dorongan rokhani untuk mengantarkan Sang Pitara mencapai alam Ketuhanan di Niskala. Jadinya  burung Angsa itu simbol kendaraan Atman berupa kejernihan pikiran yang Wiweka .Dengan Wiweka Jnyana itu rokhani atau Atman dengan jelas melihat mana Sorga dan mana Neraka. Pada bagian Bebaturan atau Gegunungan ini disamping ada hiasan Garuda dan Angsa ada juga hiasan berupa binatng Gajah,Macan,,Bangkal dan Sae atau barong. Semua jenis binatang itu adalah lambang isi  hutan di bagian pangkal Gunung.Semua isi hutan itu adalah ciptaan Tuhan yang harus dikasihi.Mengasihi isi hutan itu wujud kasih mausia kepada alam sebagai  pengejawantahan Bhuta Hita atau sikap hidup mensejahtrakan alam lingkungan.


Dari : I Ketut Widyananda.
Hal   : Naskah Untuk Rubrik Kembang Rampe di Nusa Tenggara.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Toko Online terpercaya www.iloveblue.net

Toko Online terpercaya www.iloveblue.net
Toko Online terpercaya www.iloveblue.net