Kamis, 19 Januari 2017

UPACARA MEMANAH NAGA BANDHA

Setelah Upacara Melaspas Naga Bandha dilanjutkan dengan Upacara Pengurip dan Penyawa Naga Bandha. Upacara Pemelaspas bermakna sebagai penyucian dari  Naga Bandha  dari bahan-bahan alami terus resmi menjadi simbol yang disebut Naga Bandha.Setelah itu Naga Bandha yang berupa simbol itu di hidupkan secara ritual dan spiritual sehingga menjadi simbol Naga Bandha yang berjiwa secara rokhani. Hal inilah yang disebut Upacara Pengurip. Setelah itu barulah dilakukan dengan upacara Penyawa.Upacara Penyawa ini bertujuan untuk menunggalkan Atman atau Suksma Sarira orang yang di aben dengan Naga Bandha yang sudah di hidupkan secara ritual dan spiritual.

Setelah dua proses tersebut maka proses selanjutnya dilakukan Upacara “ Manah “ Naga  Bandha. Mengapa disebut Manah  Naga Bandha.Karena dalam prosesi upacara tersebut menggunakan sarana panah yang dilepaskan mengarah pada Naga Bandha oleh Sang Pandita pemimpin Upacara Ngaben tersebut. Upacara Manah Naga Bandha tersebut didahului  dengan mengarahkan panah itu kesepuluh penjuru alam.Sepuluh penjuru alam itu adalah dari Timur,Timur laut, Utara,Barat laut,Barat,Barat daya,Selatan,Tenggara,kebawah dan keatas..Manah Naga Bandha dengan arah seperti itu disebut  “Memanah Desa Dhing”

Namun ada juga Manah Naga Bandha dengan mengarahkan panah ke Timur,Selatan,Barat,Utara ,ke bawah dan ke atas.Jadinya keempat arah dan ditambah dengan kearah bawah dan atas. Perbedaan ini tidak terlalu prinsip karena dikurangi empat sudut arah alam raya ini saja sedangkan makna filosofinya sama saja.Upacara Manah Naga Bandha umumnya dilakukan di dua tempat yaitu di hadapan jenazah  dan di Setra (kuburan) pada bagian tempat pembakaran jenazah yang disebut Tunon. Masyarakat sering mengertikan Upacara  Manah Naga Bandha ini bertujuan untuk membunuh Naga Bandha.Pada bagian telinga Naga Bandha itu umumnya disematkan bunga kembang sepatu atau Pucuk merah. Kalau bunga kembang sepatu itu layu setelah dilakukan Upacara Manah Naga Bandha itu berarti Pandita itu berhasil membunuh Naga Bandha tersebut. Kalau tidak layu bunga kembang sepatu merah itu berarti Pandita itu kalah dan Pandita itu aka cepat meningal. Pengertian masyakat umum ini setelah dilakukan pengamatan dalam prosesi upacara Manah Naga Bandha tersebut ternyata tidak ada suatu prosesi yang dapat diartikan seperti itu. Manah Naga Bandha ini menggunakan Panah. Panah ini adalah simbol “manah” atau pikiran.Sebelum panah diarahkan pada Naga Bandha panah di arahkan kesepuluh penjuru alam.Ini lambang permohonan dengan pikiran yang hening suci agar Naga Bandha yang telah menunggal dengan jazad orang yang di aben dapat diterima diseluruh penjuru alam raya ini.Karena salah satu tujuan Ngaben adalah melepaskan ikatan alam raya ini yang dibangun oleh zat Panca Maha Bhuta (zat tanah,air,api,udara dan ether (akasa). Sehingga  Manah Naga Bandha kearah sepuluh penjuru alam raya itu berarti menyatukan zat Panca Maha Bhuta yang membangun badan kasar manusia dengan zat Panca Maha Bhuta yang membangun alam raya ini.Dengan demikian Atman Raja (Sang Wibuh) atau Pandita Bhudha yang di aben itu dengan lapang dapat menghadap Tuhan Sang Parama Atman. Penayatuan antara jazad orang yang diaben dengan simbo Naga Bandha itu didasarkan pada sarana yang digunakan dalam Ngaben yang menggunakan Naga Bandha.Sarana tersebut adalah Peripih Panca Datu atau lima kepingan unsur logam(emas,perak,besi.perunggu dan kuningan) dasar bumi ini . Panca Datau itu sebagai sarana yang ada di Naga Bandha dan ada juga pada jazad orang yanga diaben.Peripih Panca Datu  yang masing-masing ada pada Naga Bandha dan jenazah itu diharapkan menimbulkan daya tarik magnetik untuk menyatukan zat Panca Maha Bhuta di Bhuwana Alit (micro cosmos) dengan zat Panca Maha Bhuta  di Bhuwana Agung ( macro cosmos ). Ini mungkin sejalan dengan mitologi saat meninggalnya Prabhu Baladewa yang dari mulutnya keluar Naga putih terus pergi kelaut menuju dasar bumi  sebagai proses penyatuan micro cosmos dengan macro cosmos. Hal ini diceritrakan dalam Mosala Parwa. Untuk menyatukan zat Panca Maha Bhuta yang ada di jazad orang yang diaben dengan zat Panca Maha Bhuta di alam raya ini Pandita menggunakan Puja Mantra yang disebut Puja Naga Vayu Sutra sebagai Puja Mantra untuk Manah Naga Bandha. Tingkatan Ngaben yang menggunakan Naga Bandha menurut Lontar SiwaTattwa Purana adalah tingkatan Ngaben yang sangat utama.Karena dalam Lontar tersebut dinyatakan dengan berbagai perlengkapan yang sangat utama. Menggunkan Bade tingkat sebelas dengan segala perlengkapanya yang utama.


Dari : Ni Made Yuliani.S.Sos.

Hal  : Naskah Untuk Rubrik Kembang Rampe di Nusa Tenggara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Toko Online terpercaya www.iloveblue.net

Toko Online terpercaya www.iloveblue.net
Toko Online terpercaya www.iloveblue.net